Sabtu, 23 Maret 2013

Hubungan Akidah, Ibadah, dan Akhlak


Kata Pengantar
Segala pujian dan rasa kesyukuran selalu kita persembahkan kepada Allah SWT, Tuhan seluruh makhluk di alam semesta, Tuhan yang telah menciptakan manusia dan jagat raya. Allahlah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diibadahi oleh manusia. Allah jualah yang telah menganugerahkan beragam kenikmatan kepada manusia, mengutus Rasul-Nya untuk manusia, memberi petunjuk-Nya kepada manusia. Maka selamat dan beruntunglah bagi mereka yang mengikuti petunjuk yang telah diberikan-Nya, yaitu mereka yang bertauhid, beribadah, dan berakhlak sebagaimana yang telah digariskan-Nya.
Shalawat dan salam senantiasa kita peruntukkan untuk seorang manusia pilihan Tuhan, tidak lain yaitu Nabi Muhammad SAW. beliaulah yang telah dijadikan Tuhan sebagai panutan kita di dunia. Beliaulah manusia mulia yang telah dibimbing kehidupannya dengan wahyu Tuhan. Keindahan sikapnya disegani oleh teman dan musuh sekalipun. Betapa perilaku dan perangai beliau sangat agung dan sangat patut ditiru. Akidah, ibadah, dan akhlak beliau merupakan hal teragung sepanjang masa.
Kehidupan manusia dimanapun dan kapanpun tidak akan pernah terlepas dari fitrahnya sebagai makhluk sosial. Karena itu, dalam proses seleksi alam selanjutnya dan dalam pergaulannya, akan muncul kategori manusia mulia yang dijunjung dan disenangi manusia lainnya. Sebaliknya juga akan muncul manusia yang kemudian dibenci dan dijauhi oleh manusia lainnya. Jika kita susutkan, penyebab dari semua hal tersebut adalah bermula dari akhlak seseorang.
Dalam makalah yang sederhana ini kami mencoba untuk memaparkan secara singkat hal yang sangat urgen. Makalah ini kami beri judul “Hubungan antara Akidah, Ibadah, dan Akhlak”. Besar harapan kami semoga makalah yang kami sajikan ini dapat diambil pelajaran dan manfaat untuk semua. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Bpk. Dr. Saifan Nur, M.A., yang telah mendampingi dan mengajarkan kami, mengarahkan dan mengampu mata kuliah Pengantar Akhlak Tasawuf.
Akhirnya kami menyadari jika masih ada kekurangan dan kekeliruan yang terdapat dalam makalah ini. Karenanya segala bentuk masukan, kritikan, dan saran yang membangun demi kebaikan kita semua sangat kami harapkan. Semoga kita bisa menjadi pembelajar sejati yang haus ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan baru. Aamiin ya rabbbal aalamiin.

Pendahuluan
Di zaman sekarang, ketika mendengar istilah “tasawuf”, dalam benak pikiran sebagian besar umat islam terkesan sebagai sesuatu yang negatif. Terlebih karena adanya beberapa tokoh yang memberi penilaian seperti itu.Tasawuf seolah menjadi sesuatu yang harus ditakuti dan dijauhi. Ditambah karena alasan tidak adanya satu kata pun dalam al-Quran yang menyebut istilah “tasawuf”[1]
Padahal, jika kita mau mengkaji lebih jauh, hakikatnya tidaklah demikian. Islam sebagai agama yang bersifat universal, selain menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Hal ini terlihat pada salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yaitu harus disertai niat. Kesemua ketentuan tersebut terdapat dalam tujuan ajaran tasawuf.
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggungjawab, kepercayaan dan lain-lain. Dari suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan dan sebagainya.
Melihat pentingnya peranan tasawuf dalam kelangsungan hidup manusia seutuhnya, maka tidak mengherankan jika tasawuf akrab dengan kehidupan masyarakat Islam setelah masyarakat tersebut membina akidah dan ibadahnya melalui ilmu tauhid dan ilmu fiqih.

BAB I
Pembahasan
A.        Pengertian Akidah, Ibadah, dan Akhlak
1. Akidah
‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah ازوجلّ dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[2]
2. Ibadah
Ibadah (عبادة) secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Diantara definisinya :
a. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi,
b. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin.
c. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah : Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.[3]
3.  Akhlak
Dalam hal ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologi (peristilahan).[4]

·      Pendekatan Linguistik  (Kebahasaan)
:
Berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitive) yaitu merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang telah demikian adanya.
·      Pendekatan Terminologi (Peristilahan)
:
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dinilai baik dan buruk.
Dapat dilihat dalam  Mu’jam al-Wasith disebutkan ilmu akhlak adalah:
اَلْعِلْمُ مَنْ ضَوْعُهُ اَحْكَمُ قِيْمَتُهُ تَتَعَلَّقُ بِهِ اْلاَعْمَالُ الَّتِى تُوْصَفَ بِالْحَسَنِ وَالْقُبْح.
(Ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau buruk)[5]

B.        Sumber Nash Tentang Akidah, Ibadah, dan Akhlak
a. Nash Hadith
((أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً))
“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (Shahih. HR. Abu Dawud 4682 dan At-Tirmidzi 1162, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 1230, 1232)[6]
b. Nash Qur’an, contohnya QS 31 (Luqman : 13-17)
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Jika kita perhatikan, hadith dan ayat di atas, maka disana memuat tentang tiga hal yang wajib dimiliki serta dicapai oleh individu, yaitu sifat-sifat yang menyangkut masalah akidah, ibadah, dan akhlak. Tiga hal ini tidak boleh dipisahkan pada pribadi seseorang sehingga harus selalu lengkap dan sempurna. Sekalipun hanya satu dari unsur itu yang hilang, maka tidak akan tercapai kesempurnaan pribadi individu.

C.        Hubungan Akidah, Ibadah dan Akhlak
Bertasawuf pada hakikatnya adalah melakukan serangkaian ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt dan ibadah itu sendiri kaitannya sangat erat dengan akhlak. Dalam hal ini Harun Nasution mengatakan bahwa ketika mempelajari tasawuf ternyata di sana akan didapatkan al-Qur’an dan al-Sunnah yang mementingkan akhlak, karenanya ibadah erat sekali kaitannya dengan akhlak, dan kaum sufilah terutama yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak yang mulia terlebih dalam diri mereka sendiri, sehingga dikalangan mereka dikenal istilah al-takhalluq bi akhlaq Allah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittisaf bisifat Allah, yaitu mensifati diri mereka dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Swt.[7]
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia.Keyakinan hidup ini diperlukan manusia sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam.Pedoman hidup ini dijadikan pula sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas manusia
Pondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah.
Apabila aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh manusia, maka kedua hal tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu diperlukan adanya suatu peraturan yang mengatur itu semua.Aturan itu disebut Muamalah. Muamalah adalah segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial yang baik.
Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara ibadah yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang disebut dengan akhlak. Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah.Muamalah bisa dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang baik.
Contohnya : Jika berjanji harus ditepati yaitu apabila seorang berjanji maka harus ditepati. Jika orang menepati janji maka seseorang telah menjalankan aqidahnya dengan baik.Dengan menepati janji seseorang juga telah melakukan ibadah. Pada dasarnya setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus didasari denga aqidah yang baik, karena setiap hal yang dilakukan pasti ada aturanya .
Hubungan aqidah dengan akhlak
Salah satu fungsi akhlak adalah untuk menopang keimanan.Agar iman seseorang relative stabil, perlu ditopang oleh pelaksanaan akhlak yang konsisten.[8]
Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah.
Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkanya.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka mendapatkan ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari allah.
Akhlak merupakan tingkahlaku yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang dan sikap yang menjadi sebahagian daripada keperibadiannya. Nilai-nilai dan sikap itu pula terpancar daripada konsepsi dan gambarannya terhadap hidup. Dengan perkataan lain, nilai-nilai dan sikap itu terpancar daripada aqidahnya yaitu gambaran tentang kehidupan yang dipegang dan diyakininya
Aqidah yang benar dan gambaran tentang kehidupan yang tepat dan tidak dipengaruhi oleh kepalsuan, khurafat dan falsafah-falsafah serta ajaran yang palsu, akan memancarkan nilai-nilai benar yang murni di dalam hati. Nilai-nilai ini akan mempengaruhi pembentukan sistem akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika aqidah yang dianuti dibina di atas kepalsuan, maka ia akan memancarkan nilai-nilai buruk di dalam diri dan mempengaruhi pembentukan akhlak yang buruk.
Akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, merupakan dua jenis tingkah laku yang berlawanan dan terpancar daripada dua sistem nilai yang berbeda. Kedua-duanya memberi kesan secara langsung kepada kualitas individu dan masyarakat. lndividu dan masyarakat yang dikuasai dan dianggotai oleh nilai-nilai dan akhlak yang baik akan melahirkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Begitulah sebaliknya jika individu dan masyarakat yang dikuasai oleh nilai-nilai dan tingkahlaku yang buruk, akan porak peranda dan kacau bilau.
Al-Quran juga menggambarkan bagaimana aqidah orang-orang beriman, kelakuan mereka yang mulia dan gambaran kehidupan mereka yang penuh tertib, adil, luhur dan mulia. Berbanding dengan perwatakan orang-orang kafir dan munafiq yang jelek. Gambaran mengenai akhlak mulia dan akhlak tercela begitu jelas dalam perilaku manusia sepanjang sejarah. Al-Quran juga menggambarkan bagaimana perjuangan para rasul untuk menegakkan nilai-niai mulia dan murni di dalam kehidupan dan bagaimana mereka ditentang oleh kefasikan, kekufuran dan kemunafikan yang cuba menggagalkan tertegaknya dengan kukuh akhlak yang mulia sebagai teras kehidupan yang luhur dan murni itu.

Daftar Pustaka
Team Pentashih. Al- Quran dan Terjemahan. Jakarta : Depag RI.
Khairi, Alwan. Akhlaq/Tasawuf. Yogyakarta : Pokja UIN Sunan Kalijaga. 2005
Yazid  bin Abdul Qadir Jawas . Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Bogor : Pustaka At-Taqwa.  2004
Nasution, Harun. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan. 1995.
Nata, Abuddin.  Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2006.



[1]Dr. Saifan Nur dalam kuliah pertemuan pertama di semester 2.
[2]  [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
[3] http://taimiah.org/index.aspx?function=item&id=949&node=4109
[4] Prof. Dr.H. Abuddin Nata, M.A., Akhlak Tasawuf, PT Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 1
[5] Al-Mu’jam al-Wasith hlm. 252
[6]   Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Akhlaq/Tasawuf, Yokyakarta : 2005. Hlm. 65
[7] Harun Nasution. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran. (Bandung: Mizan. 1995). Cetakan III. hal. 57.
[8] Alwan Khaoiri, dkk. Akhlaq/Tasawuf. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar